Benarkah Kita Beriman? ( Sumber renungan Kisah Insipiratif )

Berbagai masalah yang menimpa umat Islam , Baik dari segi sosial, politik, ekonomi dan segala macam sudut. Kita sebagai umat Islam lebih cenderung menyalahkan pihak lain di atas kelemahan kita sendiri. Bukan semua yang bersifat begini tetapi ada dalam kalangan umat Islam itu sendiri.

Saya coba berdiskusi tentang pendapat saya bersama para pembaca artikel ini. Jika ada salah dan khilaf boleh ditegur dengan cara yang bermusyawarah seperti yang diamalkan oleh junjungan besar kita Rasulullah S.A.W. Ini adalah sekadar pendapat pribadi saya,hasil daripada pengalaman hidup saya yang tidak seberapa ini.

Kita sambung kembali isu yang dibincangkan diatas tadi. Sebagai contoh dan ini tiada kaitan dengan siapapun, banyal umat Islam dewasa ini cukup prihatin dalam isu Palestina. Banyak juga pihak sama ada yang beragama Islam atau pun tidak yang telah membantu dari segi bantuan keuangan, pakaian, tenaga dan berbagai lagi apapun yang dirasakan perlu untuk membantu rakyat Palestin yang menderita.
Banyak juga yangberdoa supaya rakyat Palestina agar diselamatkan dan pihak yang menindas ke atasnya dihancurkan daripada muka bumi ini dan kalau tidak salah, doa-doa ini juga sering berkumandang di tempat yang makbul doa seperti di Tanah Suci Makkah dan juga Madinah.

Persoalannya,

Adakah Yang Maha Mendengar tidak mendengar doa kita?

Adakah Yang Maha Mengetahui tidak mengetahui hambaNYA sedang menderita?

Adakah Yang Maha Mengasihani tidak mengasihani hambaNYa?

Adakah Yang Maha Melihat tidak melihat kesengsaraan hambaNYA?

Adakah Yang Maha Berkuasa tidak berkuasa ke atas kekuasaanNYA?

Adakah Yang Maha Pencipta tidak dapat mengawal ciptaanNYA?

Tidak sesekali tidak karena Allah itu Maha Sempurna tiada yang menandinginya.

Wahai orang yang Islam, kita coba lihat kembali dalam diri kita. Sememangnya nama kita Muhammad, nama kita Ahmad, nama kita Abu Bakar, nama kita Umar, nama kita Utsman, nama kita ‘Ali, nama kita Khadijah, nama kita ‘Aisyah, nama kita Fatimah tetapi adakah kita benar-benar beriman?

Apa itu iman?

Iman itu yakin.

Bagaimanakah perasaan yakin itu?

Seseorang yang yakin kawannya seorang yang amanah akan menceritakan rahsianya tanpa sedikit kuatir bahwa kawannya itu akan menceritakan rahsia tersebut kepada pihak lain.

Inilah yakin.. Tiada keraguan.

Di mulut yakin yang Allah itu Maha Melihat, tetapi masih melakukan dosa bersunyi diri.

Di mulut yakin bahwa Allah itu Maha Mendengar tetapi mulut masih menggunjing kelemahan dan aib orang lain.

Di mulut yakin bahwa Allah itu Maha Berkuasa tetapi masih merasakan diri sendiri yang berkuasa dengan meninggalkan sholat. Bagi yang tidak meninggalkan sholat, coba ingat balik sholat fardhu yang kita lakukan tadi, sempurnakah? Adakah menepati ciri-ciri sholat yang khusyuk?

Puasa, bagi yang berpuasa, sempurnakah puasa kita secara batinnya? Pada zahirnya kita berpuasa,tapi batinnya?

Zakat dan haji, ini yang fardhu bagi yang mampu, jangankan lkagi perkara yang sunnah.

Banyak lagi kalau ingin dijabarkan akan kelemahan sebagai KITA UMAT ISLAM. Lihat saja Rukun Islam kita yang lima.

Sejauh mana tahap keyakinan terhadap Allah S.W.T?

Sejauh manakah keimanan kita terhadap Allah S.W.T?

Hal ini berlaku kepada umat Islam seluruh dunia. Umat akhir zaman. . Itukah jawaban kita?

Kita ibarat buih-buih di lautan. Banyak tetapi tidak bertahan lama. Orang yang lemah imannya akan terus mengikut arus. Orang yang sederhana imannya dapat menahan arus. Orang yang kuat imannya dapat melawan arus. Kita bagaimana?

Mungkin secara ikrar dan perbuatan menunjukkan kita beriman. Perkataan yang dituturkan oleh kita menampakkan seolah-olah kita orang yang beriman. Perbuatan kita melakukan solat, puasa, zakat,tulisan-tulisan kita di buku-buku atau blog-blog menunjukkan kita orang yang beriman walaupun kita tidak menyatakannya. Tapi di manakah hati kita?

Bukankah iman itu dicetuskan oleh hati, diikrarkan dengan lidah dan dibuktikan dengan perbuatan? Ketiga-tiganya mesti disalaraskan. Hati, lidah dan perbuatan.

Hati kita belum yakin dengan ucapan keimanan yang kita ucapkan. Hati kita belum yakin dengan perbuatan keimanan yang kita lakukan.

BENARKAH KE KITA BERIMAN?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s